Sabtu, 16 Januari 2010

Kepada Yth,
Rekan Konselor
di
Seluruh Tanah Air.

Mari bergabung dalam blog KES KONSELING untuk berbagi informasi
mengenai berbagai hal berkaitan dengan konseling di sekolah maupun di luar sekolah.
Atas peran serta dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.

KES KONSELING

1. Abdul Chamid, S.Pd.,Kons.
2. Andori, S.Pd.,Kons.
3. Drs. Slamet Riyadi., Kons.
4. Drs. H. Gunawan Wibisono, Kons.
5. Supeni, S.Pd.,Kons.
6. Kusnul Khotimah, S.Pd.

Jumat, 15 Januari 2010

PENYUSUNAN PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH



A. PENDAHULUAN

Penyusunan program pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan langkah awal sebelum seorang guru pembimbing atau konselor sekolah melaksanakan serangkaian kegiatan bimbingan dan konseling. Program disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa yang dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama pendekatan yang bersifat asumtif prediktif, yaitu dengan memprediksi kemungkinan-kemungkinan kebutuhan dan permasalahan yang bakal dirasakan atau dihadapi oleh siswa. Kedua pendekatan yang bersifat aktual obyektif, yaitu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan yang secara aktual dan obyektif benar-benar dirasakan dan dihadapi oleh siswa1).

Identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa dapat dilakukan dengan cara mengadakan tes, berupa tes kecerdasan, bakat, minat maupun tes yang lain dimana diperlukan kerja sama dengan lembaga profesi lain yang berwenang. Disamping itu juga bisa dilakukan dengan perangkat non tes, seperti AUM ( Alat Ungkap Masalah ), DCM ( Daftar Cek Masalah ), IKMS ( Identifikasi Kebutuhan Dan Masalah Siswa )2) maupun perangkat lain yang dibuat sendiri oleh konselor seperti angket, observasi dan lain sebagainya. Sedangkan langkah kedua adalah memprediksi kemungkinan-kemungkinan kebutuhan dan permasalahan siswa yang bisa kita peroleh dengan jalan mengadakan evaluasi program pelaksanaan BK yang pernah dilakukan di masa lalu. Kedua aspek itu dianalisa, untuk dijadikan dasar penyusunan program BK yang menjadi rambu-rambu pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling yang dirangkum dalam program tahunan, program semester, program bulanan, program mingguan dan sampai pada program harian. Program harian ada dua kegiatan, yaitu satuan layanan ( Satlan ) dan satuan pendukung ( satkung ). Satlan dan satkung ini disebut Rencana Program Pelayanan ( RPP ).

Disinilah perbedaan antara RPP BK dengan RPP guru mata pelajaran. Kalau RPP konselor didasarkan pada kebutuhan dan masalah aktual siswa yang dilengkapi dengan hasil analisa program BK tahun lalu, sedangkan RPP guru didasarkan pada SK ( Standar Kompetensi ) dan KD ( Kompetensi Dasar ) yang sudah disusun dalam Permendiknas.

B. PENGERTIAN PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Program dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang sistematis, yaitu yang terencana, terorganisasi, dan terkordinasi sejak dari perencanaan, pelaksnaan, sampai dengan penilaian dan pelaporan dalam suatu periode waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Program Pelayanan bimbingan dan konseling adalah serangkaian kegiatan Pelayanan bimbingan dan konseling sejak dari perencanaan, pelaksnaan, sampai dengan penilaian dan pelaporan dalam suatu periode waktu tertentu (tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan harian) untuk mencapai tujuan Pelayanan bimbingan dan konseling.

C. TUJUAN DAN MANFAAT PROGRAM

1. Tujuan Program

Secara umum tujuan penyusunan sebuah program adalah agar seluruh kegiatan dapat terorganisasi dan terkoordinasi secara sistematis, sehingga dapat berjalan dengan lancar, efisien, dan efektif kearah pencapaian suatu tujuan.

2. Manfaat Program

a. Tujuan setiap kegiatan bimbingan akan lebih jelas.

b. Memungkinkan para petugas bimbingan untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya, dengan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.

c. Pemberian pelayanan bimbingan lebih teratur dan memadai. Siswa-siswa akan menerima pelayanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, ataupun dalam jenis pelayanan bimbingan yang diperlukan.

d. Setiap petugas bimbingan akan menyadari peranan dan tugasnya masing-masing dan mengetahui pula bilamana dan di mana mereka harus bertindak, dalam pada itu para petugas bimbingan akan menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa-siswa yang dibimbingnya.

e. Penyediaan fasilitas akan lebih sempurna dan dapat dikontrol.

f. Memungkinkan lebih eratnya komunikasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan bimbingan.

g. Adanya kejelasan kegiatan bimbingan di antara keseluruhan kegiatan program sekolah.

D. RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) BERDASARKAN KTSP

1. Jenis Program Pelayanan BK

a. Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.

b. Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.

c. Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

d. Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.

e. Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) konseling.

Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

2. PERENCANAAN KEGIATAN

a. Secara umum Perencanaan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) didasarkan pada kebutuhan dan permasalahan yang secara aktual obyektif dan asumtif prediktif dirasakan dan dihadapi oleh siswa.

b. Perencanaan kegiatan pelayanan BK mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan, serta mingguan.

c. Perencanaan kegiatan pelayanan BK harian yang merupakan jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:

1) Tujuan layanan/kegiatan pendukung

2) Sasaran layanan/kegiatan pendukung

3) Substansi layanan/kegiatan pendukung

4) Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan

5) Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat

6) Waktu dan tempat

d. Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor.

e. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.

f. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah (24 JP : 2 = 12 layanan).

3. PELAKSANAAN KEGIATAN

a. Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan keteladanan.

Program pelayanan BK yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.

b. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan BK

1) Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:

a) Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.

b) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal

c) Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.

2) Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:

a) Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan,, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

b) Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.

c) Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.

d) Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG).

e) Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah

f) Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

4. PENILAIAN KEGIATAN

a. Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:

1) Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.

2) Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik.

3) Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap peserta didik.

b. Penilaian proses kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG, untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.

c. Hasil penilaian kegiatan pelayanan konseling dicantumkan dalam LAPELPROG.

d. Hasil kegiatan pelayanan konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif.

E. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL PENYUSUNAN PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) BERDASARKAN KTSP

1. Identifikasi Kebutuhan dan Permasalahan Siswa

Identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa adalah mengumpulkan dan memahami secara cermat kebutuhan dan permasalahan mungkin atau benar-benar dirasakan dan dihadapi oleh siswa. Kegiatan ini merupakan langkah awal dan sebagai dasar dalam penyusunan program. Tanpa melakukan identifikasi yang jelas dan mantap, maka layanan-layanan yang akan diberikan kepada siswa belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan siswa.

Identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa dapat dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama pendekatan yang bersifat asumtif prediktif, yaitu dengan memprediksi kemungkinan-kemungkinan kebutuhan dan permasalahan yang bakal dirasakan atau dihadapi oleh siswa. Kedua pendekatan yang bersifat aktual obyektif, yaitu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan yang secara aktual dan obyektif benar-benar dirasakan dan dihadapi oleh siswa.

Untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan kebutuhan dan permasalahan yang bakal dirasakan atau hadapi oleh siswa dapat dilakukan dengan mendasarkan pada asumsi-asumsi teoritik dan pengalaman-pengalaman nyata sebelumnya. Asumsi teoritik terutama berkenaan dengan tugas-tugas perkembangan, sedangkan pengalaman nyata adalah kebutuhan dan permasalahan yang pernah atau biasanya dirasakan oleh siswa.

Identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa secara aktual dapat dilakukan dengan teknik tes maupun non tes. Teknik tes misalnya tes kecerdasan, bakat, minat, dan sebagainya. Penggunaan teknik tes harus dilakukan oleh tenaga yang berkewenangan. Teknik non tes misalnya dengan observasi, wawancara, angket, inventori, dan sebagainya.

Kedua pendekatan tersebut seyogyanya dilakukan secara terpadu, sehingga dapat diperoleh pemahaman tentang kebutuhan dan permasalahan siswa secara komprehensif. Berdasarkan pemahaman yang komprehensif maka akan dapat dipilih secara cermat dan selektif layanan-layanan yang memang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan siswa.

2. Identifikasi Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung

Hasil identifikasi tersebut selanjutnya dianalisis untuk mengidentifikasi layanan-layanan yang relevan dan diperlukan oleh siswa. Disamping itu, juga dapat diidentifikasi kegiatan-kegiatan pendukung yang diperlukan sebagai konsekuensi dari layanan-layanan tersebut. Dalam proses ini diperlukan wawasan yang mendalam tentang pola pelayanan BK di sekolah (wawasan ke-BK-an, bidang-bidang BK, jenis-jenis layanan, kegiatan-kegiatan pendukung, dan format layanan). Agar lebih mudah dibaca dan dipahami, maka hasil identifikasi tersebut seyogyanya ditampilkan dalam sebuah tabel.

Perlu diperhatikan bahwa langkah ini merupakan langkah yang sangat strategis yang sangat menentukan langkah-langkah berikutnya. Mengacu pada pengembangan diri dalam KTSP bahwa beban tugas konselor adalah 24 jam pelajaran per minggu. Setiap satu layanan atau kegiatan pendukung BK ekivalen dengan 2 jam pelajaran, maka setiap minggu seorang konselor minimal harus menyelenggarakan 12 layanan dan atau kegiatan pendukung. Oleh karena itu, Identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa paling tidak harus bisa menurunkan 12 layanan dan atau kegiatan pendukung per minggu. Apabila dalam satu tahun ada 36 minggu efektif maka diperlukan 12 layanan/ pendukung X 36 minggu yaitu 432 layanan dan/ pendukung. Oleh karena itu apabila seorang konselor mendapat tugas minimal yaitu 24 jam pelajaran/ minggu harus mengidentifikasi 432 layanan dan atau pendukung untuk program satu tahun. (lihat lampiran)

Dalam mengidentifikasi jenis-jenis layanan maupun kegiatan-kegiatan pendukung harus memperhatikan situasi dan kondisi sekolah. Misalnya jumlah dan kualifikasi konselor, sarana dan prasarana yang tersedia, skala prioritas kebutuhan/ permasalahan, kebijakan sekolah, dan program sekolah itu sendiri.

Apabila langkah ini dapat dilakukan dengan baik, maka penyusunan program tahunan sampai dengan harian menjadai lebih mudah. Penyusunan program tahunan sampai dengan harian pada dasarnya merupakan pendistribusian seluruh kegiatan yang akan diberikan kepada siswa sehingga menjadi jelas apa, untuk siapa, oleh siapa, kapan, berapa lama, dan di mana sebuah layanan atau kegiatan pendukung diberikan.

Dengan program yang jelas sejak dari program tahunan sampai dengan program harian, maka akan menjadi sangat jelas pula aktivitas konselor sehari-hari di sekolah. Hari apa, jam berapa, di mana, dengan siapa, memakai apa seorang konselor sedang memberikan layanan atau pendukung apa. Dengan demikian seorang konselor menjadi lebih jelas dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Di samping itu, anggapan ”konselor sebagai pengangguran yang di bayar atau makan gaji buta” secara perlahan akan bisa terehabilitasi.

3. Penyusunan Program Tahunan

Program tahunan merupakan program yang mencakup seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun. Satuan waktu terbesar dalam tahun yang digunakan dalam pendidikan sekarang adalah semester. Dalam program tahunan seluruh kegiatan didistribusikan ke dalam satuan waktu semester. Oleh karena itu dalam program tahunan ditampilkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam semester ganjil dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam semester genap.

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalam KTSP program tahunan disusun untuk setiap kelas. Dalam program tahunan termuat bidang-bidang bimbingan dan konseling, jenis-jenis layanan, dan kegiatan-kegiatan pendukung. (lihat lampiran)

4. Penyusunan Program Semesteran

Program semesteran merupakan penjabaran dari program tahunan yang mencakup seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu semester. Satuan waktu terbesar dalam semester yang digunakan dalam pendidikan sekarang adalah bulan. Dalam program semesteran seluruh kegiatan didistribusikan ke dalam satuan waktu bulan. Oleh karena itu dalam program semesteran ditampilkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam setiap bulan selama satu semester.

Program semesteran memuat jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilakukan setiap bulan dalam satu semester. (lihat lampiran)

5. Penyusunan Program Bulanan

Program bulanan merupakan penjabaran dari program semesteran yang mencakup seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu bulan. Satuan waktu terbesar dalam bulan yang digunakan dalam pendidikan sekarang adalah minggu. Dalam program semesteran seluruh kegiatan didistribusikan ke dalam satuan waktu minggu. Oleh karena itu dalam program bulanan ditampilkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam setiap minggu selama satu bulan.

Program bulanan memuat jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilakukan setiap minggu dalam satu bulan. (lihat lampiran)

6. Penyusunan Program Mingguan

Program mingguan merupakan penjabaran dari program bulanan yang mencakup seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu minggu. Satuan waktu terbesar dalam minggu yang digunakan dalam pendidikan sekarang adalah hari. Dalam program mingguan seluruh kegiatan didistribusikan ke dalam satuan waktu hari. Oleh karena itu dalam program mingguan ditampilkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam setiap hari selama satu minggu.

Program mingguan memuat jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilakukan setiap hari dalam satu minggu. (lihat lampiran)

7. Penyusunan Program Harian

Program harian merupakan pejabaran dari program mingguan yang mencakup seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu hari. Satuan waktu terbesar dalam hari yang digunakan dalam pendidikan sekarang adalah jam pelajaran. Dalam program harian seluruh kegiatan didistribusikan ke dalam satuan waktu jam pelajaran. Oleh karena itu dalam program harian ditampilkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam setiap jam pelajaran selama satu hari.

Mengingat layanan yang diselenggarakan dalam satu sekitar dua sampai tiga layanan, maka program harian bisa ditulis untuk satu minggu.

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalam KTSP program harian sekaligus merupakan satuan layanan (SATLAN) dan satuan kegiatan pendukung (SATKUNG). Program harian memuat:

a. Tujuan layanan/kegiatan pendukung

b. Sasaran layanan/kegiatan pendukung

c. Substansi layanan/kegiatan pendukung

d. Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan

e. Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat

f. Waktu dan tempat. (lihat lampiran)

8. Penyusunan Jurnal Pelayanan BK

Jurnal pelayanan BK merupakan catatan kegiatan sehari-hari terutama jenis layanan dan atau kegiatan pendukung yang telah dilaksanakan oleh seorang konselor. Sebagaimana jurnal mata pelajaran yang terdapat dalam setiap kelas. Setiap selesai memberikan layanan atau kegiatan pendukung seorang konselor segera mencatat di dalam jurnal.

Jurnal merupakan salah satu bukti fisik bahwa seorang konselor telah melaksanakan tugasnya. Jurnal juga bisa berfungsi sebagai kontrol terhadap pelaksanaan program harian. Apakah seluruh program bisa terlaksana, bisa dikroscek antara jurnal dengan program harian. Sehingga program pelayanan BK bisa dievaluasi sesegera mungkin, terutama keterlaksanaannya.

F. PENUTUP

Demikian sekilas tulisan tentang penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, semoga ada manfaatnya terutama bagi para rekan konselor yang akan menyusun program.

Tulisan ini jauh dari yang diharapkan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi sempurnanya tulisan ini.

Atas kritik dan sarannya, saya ucapkan terima kasih.

----------------------------------

1). Drs. Suharso, M.pd.,Kons. Ketua jurusan BK dan Dosen PPK UNNES Semarang.

2). Perangkat non tes yang disusun oleh KES Konseling, sebuah lembaga konseling yang terdiri dari para konselor alumni PPK UNNES. Perangkat ini sudah dilengkapi dengan software untuk menganalisa dan menyusun program sampai pada program mingguan.

Sumber Pustaka

- Depdiknas, PPPPTK Penjas & BK. 2008. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Parung Bogor.

- Suharso, Drs. M.Pd.,Kons, Makalah Worksop MGP SMA RSBI se Jawa Tengah- Januari 2009.